Bandingkan dengan opsi 2, dimana lembaga keuangan menyalurkan pinjaman kepada perusahaan pertambangan dengan bunga yang lebih rendah, namun terdapat klausul pinjaman bahwa debitur harus menjaga lingkungan dan menggunakan sumber daya lokal. Dalam jangka pendek keuntungan yang diperoleh bank mungkin tidak setinggi opsi 1, namun debitur dapat melakukan aktivitas bisnisnya dalam jangka waktu yang lebih panjang dan juga menghidupkan perekonomian di sekitarnya. Hidupnya perekonomian sekitar ini dapat menjadi sumber penyaluran modal dan tentunya merupakan potensi pendapatan bagi bank di masa depan.

Sumber Dana Murah
Dari sisi sumber pendanaan atau funding, praktik keuangan berkelanjutan juga menjadi modal bagi lembaga keuangan untuk memperoleh sumber dana yang lebih murah. Bagaimanapun, sumber pembiayaan seperti dana pensiun, trust fund, atau investment bank utamanya dari negara maju saat ini memiliki concern yang cukup tinggi terhadap keputusan investasi yang mengacu pada prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola.

Beberapa contoh lembaga keuangan yang berhasil dalam penerbitan surat utang untuk pembiayaan berkelanjutan antara lain Deutsche Bank, BNP Paribas, Barclays, UBS, BBVA, Goldman Sachs, JP Morgan, Merrill Lynch, Blackrock dan masih banyak lagi.

Sedangkan di Indonesia adalah Bank Rakyat Indonesia yang pada saat sebelum pendemi Covid-19 menerbitkan obligasi sosial dengan skema berwawasan lingkungan (sustainable bond) sebesar US$500 juta dengan bunga yang cukup rendah, dengan minat beli investor mencapai US$4,1 miliar atau oversubscribe delapan kali. Ini merupakan penerbitan instrumen keuangan sosial yang pertama di Asia Tenggara.