Dalam hal ini, lembaga keuangan menjadi driver yang memastikan entitas bisnis menyelaraskan aktivitas profit making dan komitmen menjaga lingkungan dan komunitas sosial pada saat yang bersamaan melalui komitmen penyaluran modal.
Lembaga keuangan dapat memberikan insentif pinjaman/penyaluran modal yang lebih menarik untuk entitas bisnis yang melaksanakan praktik bisnis berkelanjutan.
Lalu apa untungnya bagi lembaga keuangan, bukankah penyaluran modal yang dengan tingkat pengembalian yang lebih rendah dapat menurunkan profitabilitas?
Dalam pelaksanaan praktik keuangan yang berkelanjutan, penting untuk menggarisbawahi konsep visi jangka panjang. Artinya dalam jangka pendek mungkin profitabilitas yang dapat diperoleh lembaga keuangan sedikit lebih rendah, namun profitabilitas ini dapat dipastikan terus berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang.
Ambil saja contoh opsi 1, lembaga keuangan memberikan pinjaman dengan tingkat bunga yang tinggi kepada perusahaan yang melakukan aktivitas pertambangan dengan ekstensif tanpa memperhatikan keberlangsungan lingkungan. Dalam jangka pendek, bank tentu mendapatkan pendapatan bunga yang sangat menarik namun begitu kegiatan pertambangan tersebut berhenti karena sumber dayanya habis dan lingkungan sekitarnya rusak, maka bank dalam jangka panjang juga akan kesulitan dalam menyalurkan dananya.

