Ia menjelaskan, dari 10 korban itu sebenarnya mereka mendapatkan tugas pekerjaan bagian belah batu yang dari lubang tambang guna proses perendaman dan juga pekerjaan lainnya. Namun malam itu mereka justru meminta agar esok harinya turun ke lubang guna mengambil batu. Padahal itu sudah ada pembagian tugas masing-masing.

“Bahkan di antara dari 10 korban itu ada yang bilang: Besok pagi-pagi kita masuk lubang. Dan ucapan itu disambut dengan gembira oleh ke 9 korban lainnya. Seakan-akan mereka sudah tak sabar menunggu pagi datang, seperti sudah ada yang membisiki,” tandasnya.

Dijelaskannya, jumlah rombongan ada 23 orang termasuk seorang ibu bagian memasak. Dari jumlah itu, selain ke 10 korban itu, mereka ada di bagian penggalian, baik masuk ke dalam lubang maupun bagian penunggu mesin hidrolis untuk mengangkat karung yang berisi batu-batu pilihan yang ada kandungan emasnya.

“Malam itu jadi terbalik, yang dapat tugas masuk lubang semuanya bilang malas bekerja esok harinya. Dan mereka semua berencana libur karena malamnya hujan lebat. Tapi yang 10 orang ini keinginannya seakan sudah tidak bisa ditahan lagi,” imbuh Saifulloh.

Menurutnya, malam sebelum kejadian naas yang menimpa saudaranya itu tidak seperti biasanya. Meskipun kondisi cuaca hujan lebat dan petir namun ke 10 korban ini bersuka ria hingga larut malam. “Gelagatnya aneh, tapi mungkin sudah takdir,” pungkas Saifulloh sambil menyeka air matanya.