Kotawaringin Barat, lintasberita1.com – Ayah dan Ibu Korban yang meninggal dalam peristiwa meledaknya Kapal Tongkang Milik PT Korindo menyisakan kesedihan yang mendalam. Pasalnya, Fauzi, 22 tahun, merupakan tulang punggung keluarganya.
Ayah korban menceritakan jika anaknya itu baru bekerja melalui pihak ketiga (outsourcing/alih daya) selama 20 hari. Bahkan, hingga saat ini keluarga korban belum menerima bantuan apa-apa.
“Hanya biaya rumah sakit dan pemakaman,” tutur Ayah Almarhum Fauzi yang enggan disebutkan namanya, Selasa (6/7) siang.
Ia menambahkan, pada saat mendengar kabar Tongkang meledak dan memastikan bahwa korban yang meninggal dunia adalah anaknya, lalu ia bergegas ke tempat kejadian perkara (TKP). Namun eronisnya ia ditahan dan tidak diperbolehkan masuk oleh pihak keamanan pabrik (Scurity).
“Saya ini orang tuanya, dan itu (Fauzi) anak saya. Saya sedih karena tidak diperbolehkan masuk untuk melihat anak saya,” terang Ayah Fauzi di kediamannya yang berada di jalan Bhayangkara Komplek Bundaran Pramuka Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar) Kalteng.
Bahkan dirinya juga menyampaikan jika ada beberapa Wartawan yang saat itu mau melakukan peliputan dilarang oleh pihak perusahaan.
Menyikapi hal ini, Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kobar, Muhammad Yusuf bersama dengan anggotanya memberikan bantuan berupa sembako. Ia menyayangkan akan peristiwa meledaknya Kapal Tongkang milik Perusahaan Korindo yang beralamat di Kelurahan Mendawai Arut Selatan Kota Pangkalan Bun pada Senin (5/7) siang.

