
PALANGKA RAYA, Lintasberita1 – Lahan gambut yang selalu terbakar di saat musim kemarau, kini disulap menjadi lahan persawahan. Seperti yang terdapat di Talio Hulu, Pandih Batu, Pulang Pisau, Kalteng, lahan gambut disana dijadikan lahan sawah produktif yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mendukung ketahanan pangan, khususnya di masa pandemi Covid-19.
Sebagian besar lahan gambut yang terbakar adalah lahan terbengkalai, terbuka, dan tidak ada yang menjaga. Tentunya pemanfaatan lahan gambut menjadi lahan pertanian adalah sebuah terobosan yang diharapkan bisa mengurangi dampak kerusakan akibat karhutla. Namun pertanyaannya, apakah bertani di lahan gambut bisa berhasil.

Musapa ahmad sebagai PPK Kegiatan den Pam menjelaskan, bertani di lahan gambut bisa berhasil asalkan dalam pelaksanaan bisa tepat waktu. “Kalau kita bisa tepat waktu saat menanam padi dan sarana produksi (saproni) sudah tersedia sebelum musim tanam, maka jamianan untuk berhasil lebih besar,” kata Musapa Ahmad yang juga akrab dipanggil Memet, Selasa (22/12/2020) siang.
Terlambat sedikit saja bisa sangat mempengaruhi hasil produksi padi. Karena, bertani di lahan gambut ini sangat spesial dan butuh perhatian khusus dan ketepatan waktu. “Jika terlambat satu bulan bisa menurunkan hasil panen hingga 10%, dua bulan 20%, dan seterusnya” tutur Ahmad.

