“Pak Hatta yang kami pahami, itu orangnya tak seperti ayah saya. Ayah saya (Soekarno, red) itu sangat dinamis, orangnya bisa spontan, humoris. Kalau ketemu Pak Hatta, langsung saya juga harus sangat bersikap baik. Artinya bahasa Indonesia beliau sangat runtut, beliau orang sangat disiplin. Saya khawatir kalau telat (saat bertemu Hatta, red),” jelas Megawati.

“Kalau sudah datang dulu ke rumah Pak Wakil Presiden, saya rasakan ‘tekanan batin’. Karena saya ini aslinya agak nakal, ujar Megawati sambil eeyawa. Sebab kalau saya bermain, saya sukanya panjat pohon. Tapi disana saya kan tak bisa memanjat pohoh”, tambahnya.

Megawati mengaku masih mengingat, bagaimana dirinya pernah memprovokasi Meutia Farida, putri Bung Hatta, untuk bermain panjat pohon dengannya.

“Ayo naik pohon, karena saat itu bapak ibunya (Hatta dan Rahmi, red) sedang tak di rumah. Kami naik pohon, rasanya sangat merdeka,” ujar Megawati sambil tertawa.

“Tapi begitulah Pak Hatta, orangnya tenang, mengalir, berbahasa Indonesia yang sangat runtut,” tambah Megawati.

Megawati juga mengingat bagaimana dahulu, Soekarno-Hatta, dan para pendiri bangsa lainnya, sangat suka berdiskusi soal berbagai isu kebangsaan di Istana Merdeka. Diskusi sangat dinamis, kadang dengan suara meninggi, berbahasa Jawa atau Belanda.

Mengingat hubungan keluarganya dengan keluarga Bung Hatta, Megawati merasa sedih. Sebab baginya, pemimpin berikutnya hanya menyematkan status pahlawan kepada mereka, namun tak banyak menceritakan kisah-kisah mereka.