PALANGKA RAYA – www.lintasberita1.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya mencapai 146 kejadian dengan total luas lahan terbakar 162,20 hektare sejak penetapan Status Siaga Darurat Karhutla pada 1 Juni hingga 4 Agustus 2026. Di tengah meningkatnya kejadian, DPRD mengapresiasi kerja keras petugas gabungan dalam menangani kebakaran dan mencegah api meluas.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Salundik, mengatakan dedikasi personel di lapangan patut mendapat penghargaan. Mereka harus menghadapi medan yang sulit dan cuaca panas saat menjangkau titik api serta melakukan pemadaman.
“Kami memberikan apresiasi kepada seluruh tim gabungan, baik BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, maupun elemen lainnya yang tanpa mengenal waktu terus berupaya mencapai titik api dan melindungi masyarakat,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Meski mengapresiasi upaya pemadaman, Salundik menegaskan penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Pemerintah Kota Palangka Raya diminta memperkuat langkah pencegahan, terutama di wilayah yang rawan terbakar.
Menurutnya, patroli terpadu, edukasi kepada masyarakat, dan pengawasan secara berkala perlu terus ditingkatkan untuk menekan risiko kebakaran. Upaya pencegahan sejak dini dinilai penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas dan sulit dikendalikan.
“Karhutla harus dicegah sejak awal. Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan ketika api sudah membesar. Oleh karena itu, sinergi semua pihak harus terus diperkuat,” tegasnya.
Salundik juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar. Warga diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran agar dapat ditangani secepat mungkin.
Berdasarkan data BPBD Kota Palangka Raya, Kecamatan Jekan Raya mencatat jumlah kejadian karhutla terbanyak. Berikutnya, kejadian tersebar di Kecamatan Sebangau, Pahandut, dan Bukit Batu. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit dilaporkan belum mencatat kejadian karhutla selama periode tersebut.
Salundik berharap kolaborasi antara pemerintah, petugas gabungan, relawan, dan masyarakat terus diperkuat seiring meningkatnya ancaman karhutla. Dengan pencegahan dan respons yang cepat, risiko meluasnya kebakaran serta dampaknya terhadap lingkungan dan keselamatan warga diharapkan dapat ditekan. *#TIM#* www.lintasberita1.com

