Dalam sesi diskusi, Indra menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup untuk mendukung sistem peringatan dini. Menurutnya, pemanfaatan teknologi sederhana maupun kearifan lokal masyarakat juga sangat penting, terutama dalam membangun respons cepat terhadap ancaman bencana.

“Sistem peringatan dini harus dibarengi dengan kapasitas masyarakat dalam merespons informasi. Itulah poin yang jauh lebih krusial,” katanya.

Ia menambahkan, desa-desa seperti Batilap, Mantangai Hulu, Tumbang Mangkutup, dan Tumbang Muroi perlu terus didorong untuk memenuhi tahapan pengembangan Destana.

“Tujuannya jelas, agar masyarakat memiliki kemandirian saat menghadapi ancaman bencana serta mampu bangkit dan pulih pascabencana,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antarinstansi dan masyarakat semakin kuat dalam membangun sistem peringatan dini yang efektif, partisipatif, dan berkelanjutan. Penguatan kapasitas desa serta kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menekan risiko bencana dan mewujudkan masyarakat Kalimantan Tengah yang tangguh.

“Destana yang kuat lahir dari masyarakat yang memahami risiko, mampu mengambil tindakan cepat, serta memiliki semangat gotong royong dalam menghadapi bencana,” tutup Indra. *#TIM#* www.lintasberita1.com