“Kekhawatiran pasti ada, tapi olah kekhawatiran itu, jangan sampai kita kalah dengan kekhawatiran itu dengan tidak menganggap saya sakit parah. Saya anjurkan tetap isolasi diri karena memang orang tua sangat rentan. Saya sadari itu karena ada orang tua di sebelah saya dan mendapat perawatan intensif,” pungkas Ergon yang bersebelahan ruang isolasi dengan mentornya, Pendeta Hendri Tamaela.

Keduanya adalah kontak erat dan dinyatakan Positif Covid-19. Meskipun bersebelahan ruang isolasi, keduanya tidak diperbolehkan kontak langsung namun masih dapat berkomunikasi melalu telepon.

Setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, Ergon diminta untuk mengisolasi diri selama 14 hari, tetap memakai masker terutama saat keluar rumah, dan menjaga jarak aman. Untuk Surat Pernyataan Sembuh, dikoordinasikan RSUD Doris Sylvanus dengan Balai Besar Penelitian Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI untuk selanjutnya diserahkan kepada pasien sembuh.

Selanjutnya, diungkapkan oleh dr. Janet Siagian, dokter spesialis paru yang menjadi penanggung jawab perawatan Ergon di rumah sakit, pasien dipindahkan dari Poli Covid-19 ke Ruang Wijaya Kusuma 1. Karena kondisi pasien tidak begitu bagus, nadinya agak cepat, demam, dan dikhawatirkan ada infeksi sekunder, maka pasien diinfus dan diberi antibiotik selama 5 hari, di samping diberi obat penunjang lain seperti paracetamol. Pasien juga diberi buah seperti pisang untuk meningkatkan ketahanan tubuh supaya Virus Corona tidak menempel di sistem pertahanan tubuh.