Ditempat yang sama, Ergon Pranata Pieter menceritakan bahwa dirinya benar baru saja pulang dari sekitar tanggal 28-29 Februari 2020 dan tiba di Palangka Raya tanggal 1 Maret 2020. Setelah beberapa hari setibanya dari Bogor, calon Pendeta di GPIB Ebenhaizer tersebut mengaku mengalami deman, sempat menggigil, sedikit batuk, dan vertigo. Setelah dibawa ke UGD RS Siloam dan diobservasi, Ergon dinyatakan PDP dan dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus pada Selasa (17/3/2020).

Ergon mengaku sempat mengalami tekanan psikologis selama menunggu hasil laboratorium. Namun, para dokter dan perawat yang merawatnya, diakui Ergon, selalu memberikan motivasi dan dukungan. Selain itu, para jemaatnya di BPIB Ebenhizer juga memberikan dukungan serta kooperatif dengan kesadaran mengisolasi diri dan meminum obat. “Support mereka yang terbesar, tidak menjauhi dan mendoakan,” kata Ergon yang menekankan bahwa kesembuhan pasien juga didukung oleh dukungan orang-orang di sekitarnya.

Selama dirawat di rumah sakit, Ergon juga mengaku mendapat perawatan untuk sakit lain yang dideritanya, seperti sakit perut dan vertigo. Selain itu, pasien juga masih diperbolehkan menggunakan handphone serta disedikan AC dan televisi untuk mengurangi kebosanan selama diisolasi dan tidak dapat dijenguk oleh keluarga.

Ergon yang merupakan pasien sembuh Covid-19 kedua di Kalteng itupun memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa penyakit ini tidak jauh lebih besar dari demam berdarah, meski penyakit ini dapat cukup beresiko bagi mereka yang telah lanjut usia, mengidap penyakit bawaan, atau memiliki imunitas yang rendah. “Tapi kalau orang yang sehat, walau terinfeksi, bisa merawat diri di rumah dengan makan yang cukup, hidup yang baik, obat obatan, dan vitamin,” katanya.