Ada lagi upacara Ngaben yang berasal dari Bali, upacara ini berupa proses kremasi atau pembakaran jenazah. Tujuan dari upacara ini adalah untuk mensucikan roh orang yang sudah meninggal. Jika pihak yang meninggal tersebut berasal dari kasta tinggi maka upacara ngaben akan segera dilaksanakan.
Trunyan (Bali)
orang-orang yang meninggal di desa ini tidak dikuburkan maupun dibakar. Jenazah akan diletakkan di bawah sebuah pohon yang disebut taru menyan. Jenazah hanya akan ditutupi dengan sungkup bambu. Di sekitarnya diletakkan beberapa perlengkapan mendiang. Dikabarkan bahwa meskipun demikian tempat ini tidak mengeluarkan bau busuk. Hal ini dipercaya disebabkan oleh pohon taru menyan yang menaungi tempat tersebut mampu melenyapkan bau-bau yang dihasilkan oleh mayat-mayat yang diletakkan di sana.
Lainnya adalah Mumifikasi suku Asmat tidak sembarang jenazah yang dimumifikasi oleh suku Asmat. Tradisi ini hanya dilakukan pada jenazah-jenazah kepala suku atau orang-orang tertentu yang memiliki posisi penting dalam suku tersebut. Kalau diperhatikan dari posisi memeluk lutut itu memang posisi sakral dalam kepercayaan animisme–dinamisme.
Sebelum masuknya penyebaran agama-agama di nusantara (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu,Buddha dan Khonghucu) penduduk di nusantara telah memiliki sistem kepercayaan pada masing-masing suku maupun kelompok suku.

