“Kami melihat, pemberdayaan perempuan berkontribusi besar bagi perdamaian, demokrasi, dan hak asasi manusia dan penanganan Covid-19,” ucapnya.

Hanya saja, menurut Puan, pandemi Covid-19 telah menghambat pencapaian pemberdayaan perempuan.

“Ini tantangan kita bersama yang harus terus menjadi perhatian. Kerja sama antar negara, termasuk lewat parlemen, akan membantu mengatasi tantangan itu,” jelas Puan.

Di sisi lain, Puan menilai Kuwait merupakan mitra dagang penting Indonesia di Kawasan Teluk. Ia pun berharap agar ada peningkatan hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Kuwait.

“Kuwait juga merupakan mitra penting untuk stabilitas kawasan. Hubungan Indonesia dan Kuwait harus terus dikembangkan, khususnya di sektor kerja sama politik, ketenagakerjaan, dan pendidikan,” imbuh Puan.

Siang ini, Puan juga melakukan pertemuan Pull aside dengan Ketua Palemen Republik Demokratik Timor-Leste, Ancieto Longuinhos. Dalam pertemuan itu, ia menyinggung mengenai persoalan perbatasan negara antara Indonesia dan Timor Leste yang masih belum selesai.

“Saya berharap kita dapat menyelesaikan negosiasi perbatasan kedua negara yang tertunda karena pandemi,” katanya.

“Kami meminta dukungan dari Timor Leste untuk mempercepat penyelesaian penentuan perbatasan darat di Segmen Noel Besi-Citrana, dan Segmen Bijael Sunan-Oben,” sambung Puan.