“Ada sedikit kemajuan dari tahun 2020, dimana Indonesia berada di urutan kedua setelah India. Berdasarkan Global TB Report Tahun 2021, diketahui insiden TBC sebanyak 824.000 kasus serta mortalitas TBC 34 per 100.000 penduduk per tahun. Dengan muncul tantangan baru bagi pengendalian TBC, yaitu pandemi covid-19, dimana penyakit TB merupakan salah satu komorbid yang berpengaruh memperburuk pandemi, dan merupakan salah satu faktor komorbid yang harus di-screening sehingga berpotensi memperlambat proses pemberian vaksinasi covid-19,” pungkasnya.

Sementara, sejak awal tahun hingga Mei 2022, CDR Kalteng masih bertahan di angka 10%, di mana seharusnya untuk terus berprogres secara linier, CDR pada semester 1 tahun 2022 harus > 20%, sehingga perlu ditingkatkan upaya terkait surveilans terutama pencatatan dan pelaporan yang real time. Pasien TB RO di Kalteng per 5 Juni 2022 ditemukan sebanyak 20 pasien, namun yang memasuki tahap pengobatan hanya 16 pasien.

“Hal itu karena fasilitas pengobatan TB RO di Kalimantan Tengah masih terkonsentrasi di Palangka Raya dan Pangkalan Bun, sementara fasilitas TCM sudah tersedia di seluruh kabupaten di Kalimantan Tengah. Pencapaian indikator utama program TB di tahun 2021 ini sudah menunjukkan peningkatan dibanding masa awal pandemi tahun 2020, dan harus lebih baik lagi di tahun 2022. Kita harus mempersiapkan strategi surveilans TB di tengah peralihan pandemi covid19 menjadi endemi yang lebih kondusif agar progress yang sudah kita buat dapat terus meningkat secara berkelanjutan,” imbuhnya.