Studi banding ini juga menjadi bagian dari upaya melihat peluang pengembangan model wisata edukasi berbasis kerajinan tradisional. Konsep yang menggabungkan pengalaman langsung wisatawan dengan promosi produk UMKM dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada pengunjung.
Kehadiran FISDAWAN dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pertukaran pengalaman dalam pengembangan wisata berbasis kearifan lokal. Model pengelolaan yang diterapkan di Kampung Sasirangan Cempaka menjadi salah satu referensi yang dapat dipelajari untuk pengembangan potensi budaya dan ekonomi kreatif di daerah lain.
Selain menjadi bagian dari pelestarian tradisi, pengembangan Sasirangan juga memiliki potensi untuk memperkuat sektor UMKM. Produk yang dihasilkan pengrajin tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas sejarah dan budaya masyarakat Banjar.
Melalui sinergi antara Disparwan, FISDAWAN, dan para pelaku UMKM serta pengrajin, kain Sasirangan diharapkan semakin dikenal secara luas. Penguatan promosi dan inovasi wisata budaya diharapkan mampu membuka peluang pasar yang lebih besar sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi Sasirangan di tengah perkembangan zaman. *#TIM#* www.lintasberita1.com

