BANJARMASIN – www.lintasberita1.com – Upaya memperkuat wisata budaya sekaligus mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal terus dilakukan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparwan) bersama Persatuan Istri Anggota Dewan (FISDAWAN) melakukan kunjungan kerja ke Kampung Sasirangan Cempaka, Banjarmasin, Jumat (21/8/2026).
Kunjungan tersebut diikuti Ketua FISDAWAN, Ny. Apristini Arton S. Dohong, bersama sejumlah anggota FISDAWAN. Kegiatan dikemas dalam bentuk studi banding dengan fokus pada pengembangan destinasi wisata berbasis pengalaman, edukasi budaya, serta pemberdayaan masyarakat melalui produk wastra tradisional.
Dalam kunjungan itu, rombongan melihat secara langsung pengelolaan potensi budaya masyarakat Cempaka yang dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Tidak hanya menawarkan produk kerajinan, kawasan tersebut juga memberikan pengalaman edukatif kepada pengunjung mengenai proses pembuatan kain tradisional Sasirangan.
Salah satu agenda utama adalah mengikuti workshop pembuatan kain Sasirangan bersama para pengrajin lokal. Apristini Arton S. Dohong dan anggota FISDAWAN mendapat kesempatan mempelajari langsung tahapan pembuatan kain khas Banjar tersebut.
Dengan didampingi pengrajin berpengalaman, rombongan mengikuti proses mulai dari teknik perintangan jelujur, pewarnaan, hingga tahap pengeringan kain. Kegiatan tersebut memberikan gambaran mengenai proses panjang di balik pembuatan setiap lembar Sasirangan sekaligus nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Studi banding ini juga menjadi bagian dari upaya melihat peluang pengembangan model wisata edukasi berbasis kerajinan tradisional. Konsep yang menggabungkan pengalaman langsung wisatawan dengan promosi produk UMKM dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada pengunjung.
Kehadiran FISDAWAN dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pertukaran pengalaman dalam pengembangan wisata berbasis kearifan lokal. Model pengelolaan yang diterapkan di Kampung Sasirangan Cempaka menjadi salah satu referensi yang dapat dipelajari untuk pengembangan potensi budaya dan ekonomi kreatif di daerah lain.
Selain menjadi bagian dari pelestarian tradisi, pengembangan Sasirangan juga memiliki potensi untuk memperkuat sektor UMKM. Produk yang dihasilkan pengrajin tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas sejarah dan budaya masyarakat Banjar.
Melalui sinergi antara Disparwan, FISDAWAN, dan para pelaku UMKM serta pengrajin, kain Sasirangan diharapkan semakin dikenal secara luas. Penguatan promosi dan inovasi wisata budaya diharapkan mampu membuka peluang pasar yang lebih besar sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi Sasirangan di tengah perkembangan zaman. *#TIM#* www.lintasberita1.com

