Disebutkannya, berdasarkan Kajian Fiskal Daerah Kalteng Triwulan II Tahun 2023 yang dirilis Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalteng, perekonomian Kalteng tumbuh lebih lambat yakni 2,96% Year On Year (yoy) pada Triwulan II tahun 2023 lebih lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan triwulan I tahun 2023 yaitu sebesar 3,22% (yoy) dengan laju pertumbuhan triwulanan sebesar 2,76% quarter to quarter (q to q). Situasi ini jauh lebih lambat dibandingkan triwulan II-2022 yang laju pertumbuhannya sebesar 6,77% (yoy).

Perlambatan ini terutama disebabkan oleh dua faktor. Pertama, kondisi high base effect yang merujuk pada dampak negatif berakhirnya periode rejeki nomplok (windfall period) terhadap komoditas utama Kalimantan Tengah pada awal tahun 2022. Kedua, sektor Pertambangan dan Penggalian terus terkontraksi hingga mencapai -17,89% (year on year), sehingga memberikan tekanan pada komponen utama struktur perekonomian Kalimantan Tengah, yaitu kinerja ekspor. Ia memberikan penjelasan mengenai hal tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa pada tahun 2022, terdapat kesenjangan positif yang sangat tinggi dalam laju pertumbuhan ekonomi antara Kalimantan Tengah dan Pulau Kalimantan atau negara secara keseluruhan, yang menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari kenaikan harga batubara dan komoditas CPO global. .