PALANGKA RAYA – Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Siti Nafsiah, menyoroti fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang terjadi belakangan ini.

Ia menilai penyebab utama kondisi tersebut lebih banyak dipicu oleh kepanikan di tengah masyarakat.

“Menurut saya penyebab utama karena panic buying akibat berbagai isu dan kebijakan, sehingga masyarakat yang khawatir akan kenaikan harga atau pembatasan pembelian BBM bersubsidi berbondong-bondong mengisi tangki meskipun sebenarnya masih cukup,” kata Siti Nafsiah di Palangka Raya, Senin (13/4/2026) sore.

Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan di tingkat daerah yang terkadang justru memberikan efek ganda di lapangan.

“Di beberapa daerah, surat edaran pembatasan yang dikeluarkan pemda malah membuat kepanikan dan antrean panjang. Padahal maksudnya baik untuk mengurai kemacetan di SPBU-SPBU,” tambahnya.

Faktor lain yang tak kalah penting, lanjut Siti, adalah hambatan pada rantai distribusi yang berimbas langsung pada ketersediaan stok di SPBU.

“Gangguan distribusi juga bisa menjadi penyebab, baik karena keterbatasan armada maupun kondisi jalan dan jarak tempuh. Dan hal ini tentunya menimbulkan dampak di masyarakat. Waktu yang banyak terbuang untuk antre, gangguan ekonomi bagi berbagai sektor perdagangan, kemacetan lalu lintas, hingga risiko keamanan,” ungkapnya.