Palangka Raya – www.lintasberita1.com – Pelatihan Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan Asma di Provinsi Kalimantan Tengah (Provinsi Kalteng) dilaksanakan di Hotel Neo Palangka Raya pada Selasa (10/10/2023). Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul membuka langsung kegiatan tersebut.

Selain itu beliau juga menjadi narasumber pada saat pelatihan. Berdasarkan sambutan Suyuti Syamsul, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa kejadian Asma di Indonesia sebesar 2,4%, dengan prevalensi pada laki-laki sebesar 2,3% dan pada perempuan sebesar 2,5%. Sebaliknya, prevalensi PPOK berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 sebesar 3,7%, laki-laki mempunyai prevalensi 4,4% dan perempuan 4,6%. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa PPOK menempati urutan ketiga penyebab kematian secara global.

“Pada tahun 2019, terdapat 3,23 juta kematian dengan merokok sebagai penyebab utama. “Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) memperkirakan secara epidemiologis pada tahun 2060, prevalensi PPOK akan terus meningkat, dengan 5,4 juta kematian akibat penyakit tersebut akibat peningkatan jumlah perokok,” ujarnya. dikatakan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, strategi Practical Approach to Lung Health (PAL) telah diperkenalkan oleh WHO sejak tahun 2008. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mendiagnosis empat penyakit berbeda, antara lain Tuberkulosis, Pneumonia, Asma, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Integrasi Pendekatan Praktis Kesehatan Paru diharapkan dapat meningkatkan kualitas deteksi dini, diagnosis, dan pengobatan kasus TBC, Pneumonia, Asma, dan PPOK secara keseluruhan.