Sekolah juga menjalankan program Orang Tua Mengajar, yaitu kegiatan yang menghadirkan orang tua dan masyarakat untuk berbagi pengetahuan mengenai proses pengolahan rotan, mulai dari tahap pembersihan hingga pemanfaatannya menjadi produk bernilai ekonomi.

Pengawas Pembina SMAN 1 Kota Besi, Febri Sugiyanto, menilai Program Petak Itah merupakan contoh praktik baik yang menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, sekolah tidak dapat berjalan sendiri dalam mendidik peserta didik, tetapi perlu membangun kemitraan dengan masyarakat dan dunia usaha agar proses pembelajaran semakin bermakna.

“Yang menarik dari Program Petak Itah adalah bagaimana sekolah mampu melihat potensi lingkungan sekitar sebagai kekuatan pembelajaran. Orang tua dan masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi menjadi mitra belajar, sementara dunia usaha menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik,” ujar Febri.

Ia menambahkan, melalui pendekatan tersebut siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan, kecintaan terhadap budaya lokal, keterampilan sosial, kreativitas, serta kemampuan melihat peluang dari potensi di sekitarnya sesuai dengan dimensi Profil Lulusan dalam Pembelajaran Mendalam.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kota Besi Indah Siswanti menjelaskan bahwa nama Petak Itah berasal dari bahasa Sampit yang berarti “Tanah Kita”. Filosofi tersebut menggambarkan semangat memanfaatkan lingkungan dan potensi lokal sebagai sumber belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara kontekstual.