Menindaklanjuti temuan tersebut, Tomsi meminta Pemda yang inflasinya masih berada di atas rata-rata nasional agar segera berkoordinasi dengan BPS di daerah untuk mengidentifikasi penyebab kenaikan harga dan menentukan langkah pengendalian yang tepat.
“Kalau memang masih belum terlalu paham, tolong BPS setempatnya diundang. Diajak diskusi bagian mana lagi yang harus kita perbaiki sehingga harga-harga ini dapat terkendali dengan baik,” tegasnya.
Tomsi menjelaskan, inflasi nasional secara year-on-year pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen, sedangkan inflasi year-to-date mencapai 1,79 persen. Menurutnya, kenaikan inflasi tidak hanya dipengaruhi harga pangan, tetapi juga kelompok transportasi akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta kelompok perawatan pribadi yang terdampak kenaikan harga emas dunia.
Karena itu, kata Tomsi, pemerintah akan terus memusatkan pengendalian pada sektor pangan yang dapat diintervensi secara langsung melalui berbagai langkah di daerah.
Tomsi berharap seluruh Pemda memanfaatkan data BPS sebagai dasar dalam menyusun kebijakan pengendalian inflasi. Dengan koordinasi yang kuat dan intervensi yang tepat sasaran, tren penurunan IPH diharapkan terus berlanjut sehingga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat tetap terjaga. www.lintasberita1.com *#TIM#* (MMC)

