Fahrizal Fitri menambahkan, Pemprov. Kalteng mendukung program mobil listrik ini karena dirasa dapat menekan biaya operasional, serta mendorong penyelamatan lingkungan dengan energi listrik yang ramah lingkungan.
“Setelah kami review, ternyata biaya operasionalnya sangat murah, dan pasti ramah lingkungan, karena kami dari Pemerintah Daerah harus mendorong hal-hal yang bersifat penyelamatan lingkungan, salah satunya dengan kendaraan listrik tersebut”, imbuhnya.
Sementara itu, GM PLN Unit Induk Wilayah Kalselteng Tonny Bellamy mengungkapkan biaya pengisian daya kendaraan listrik ini lebih murah dibandingkan biaya pengisian bensin pada mobil konvensional. Tonny Bellamy secara gamblang menjelaskan perbandingan ongkos antara pengisian BBM atau bensin pada kendaraan konvensional dan pengisian daya pada kendaraan listrik.
Tonny Bellamy mengatakan, dengan 100% baterai terisi penuh setara dengan jarak tempuh sekitar 300 km, setiap satu liter BBM setara dengan 1 kilo Watt hour (kWh) listrik. Harga bensin per satu liter sekitar Rp.8.000 sampai Rp.9.000, kemudian tarif listrik per satu kWh hanya Rp 1.400-an. Artinya, menggunakan listrik lebih murah seperlimanya dibandingkan pemakaian satu liter bensin dengan jarak tempuh yang sama.
Tonny Bellamy menganalogikan pemakaian satu liter BBM dapat menempuh sekitar 10 km, di mana ongkos satu liter bensin sekitar Rp.9.000. Adapun jarak tempuh per liter bensin tersebut setara dengan konsumsi listrik sebesar 1 kWh, di mana harga listrik per kWh hanya Rp.1.400-an.

