MANOKWARI, Lintasberita1.com, – Palang Merah Indonesia (PMI) Papua Barat mengaku permintaan donor plasma konvalesen di wilayahnya masih minim. Sebaliknya, permintaan donor darah justru lebih tinggi.


Kepala Unit Donor Darah pada PMI Provinsi Papua Barat, dr. Christina, M.Ling, mengatakan, selain minim permintaan, PMI Papua Barat juga belum memiliki alat donor Plasma Konvalesen. Termasuk juga masih belum adanya tenaga untuk mengoperasikannya.


“Selain alat dan tenaga, permintaannya juga kurang. Sejauh ini baru 2 permintaan donor plasma, tapi kita tolak karena tidak ada alat dan tenaga,” ujarnya seperti dilansir dari artikel CNN Indonesia berjudul PMI Papua Barat Sebut Tak Punya Alat Donor Plasma Konvalesen, Senin (16/8/2021).

Selama pandemi katanya, permintaan darah yang justru meningkat. Biasanya dari sekitar 100 permintaan, kini mencapai sekitar 150 permintaan.

Diakuinya, peningkatan tersebut terjadi karena memang jumlah pasien di rumah sakit yang membutuhkan transfusi darah juga meningkat. Sedangkan, masyarakat yang enggan berdonor membuat PMI minim stok darah.

“Masyarakat mungkin berpikir bahwa mendonorkan darah akan mengurangi imun tubuh dan akan mudah terserang penyakit apalagi dalam kondisi Pandemi. Padahal tidak seperti itu,” ujarnya lagi.

Kata dia, setiap tiga bulan, tubuh memproduksi sel darah merah baru, sehingga melakukan donor darah justru menyehatkan tubuh. Terlebih kesehatan tubuh menjadi hal utama selama pandemi.

Christina lalu menyebut, rata-rata stok darah yang di dapat PMI saat ini 110 kantong. Jumlah itu tidak sebanding dengan permintaah transfusi darah yang tengah meningkat.

“Kita baru saja dapat tambahan 155 kantong dari kegiatan Garda Pemuda Nasdem. Jumlah ini kita perkirakan hanya bertahan paling lama dua minggu,” ungkapnya.

Terkait kondisi ini, ia menyarankan agar pemerintah dan intansi lainnya serta Lembaga dan Ormas bisa melibatkan aksi donor darah dalam momen-momen tertentu. Sehingga ketersediaan stok darah di PMI tetap terjaga. (tim)