Kemudian, para kader menjelaskan bahwa setiap hari, setiap anak di bawah usia lima tahun yang berisiko stunting mendapat makanan tambahan yang bersumber dari lokal, mengandung protein hewani tinggi seperti telur, ikan, dan daging. Sepanjang masa pendampingan yang berlangsung sebulan sebelumnya, rata-rata balita pendamping mengalami kenaikan berat badan berkisar antara 1 hingga 9 ons. Meskipun demikian, beberapa dari balita tersebut sedang menderita cacar dan sedang tumbuh gigi, sehingga nafsu makannya menurun.
Selain itu, Lisdayanti, Ketua DWP Dislutkan Prov. Kalimantan Tengah, menghimbau para kader Posyandu untuk berkolaborasi dalam pembuatan menu balita asuhnya, dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan menghemat waktu dan tenaga.
Lisdayanti menjelaskan, dirinya mendorong kader untuk mendokumentasikan kegiatan pendampingan dengan menggunakan foto dan laporan KMS (Kartu Sehat), serta melaporkannya ke DWP Dislutkan Provinsi Kalimantan Tengah, Puskesmas, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan.
Sementara itu, saat ditemui di kesempatan berbeda, Darliansjah, Kepala Dislutkan Prov. Kalteng menyatakan stunting merupakan ancaman yang harus dihilangkan demi melahirkan generasi emas.


