Reza menyebut, model hybrid ini menjadi solusi cerdas terhadap permasalahan klasik dalam dunia pendidikan, yakni ketimpangan distribusi guru.
“Dengan sistem ini, keterbatasan guru bisa diatasi lewat kolaborasi antar sekolah. Kita wujudkan gotong royong pendidikan yang nyata,” jelasnya.
Ke depan, seluruh kelas di Kalimantan Tengah akan dilengkapi dengan papan tulis digital sebagai bagian dari infrastruktur pendukung sistem pembelajaran hybrid.
Untuk mendukung sistem secara menyeluruh, Disdik Kalteng juga telah menyiapkan aplikasi digital bernama Pena Kalteng, yang memungkinkan sekolah mengajukan kebutuhan guru berdasarkan mata pelajaran tertentu—termasuk pelajaran yang tidak tersedia secara lokal, seperti Bahasa Jerman.
“Sekolah bisa memilih guru dari daftar yang tersedia. Sistemnya sudah siap dan akan kami luncurkan saat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas),” tambah Reza.
Program ini tidak hanya terbatas pada pelajaran bahasa, namun juga akan mencakup seluruh mata pelajaran, memungkinkan guru dari wilayah mana pun di Kalteng untuk berkontribusi secara luas dan membangun jejaring pengajaran yang kolaboratif.
“Guru-guru terbaik dari pelosok pun bisa mengajar ke seluruh Kalimantan Tengah. Ini adalah langkah nyata menuju pemerataan pendidikan berkualitas,” tutup Reza.
Melalui langkah progresif ini, Pemprov Kalteng menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital, sekaligus mempercepat pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. *#TIM#* www.lintasberita1.com

