“Kami tidak pernah menutup Jalan Pertamina untuk masyarakat. Masyarakat 12 desa di sekitar hauling road bebas melewati jalan tersebut. Termasuk 14 perusahaan yang sudah menjalin kerjasama dengan PT Patra Jasa, bebas lewat,” jelas made kepada Media.
Menurut Made, jangan jadikan seolah Pertamina bersengketa dengan masyarakat. Padahal selama ini kami dengan masyarakat sangat kooperatif dan akomodatif. Baik masyarakat di sepanjang hauling road maupun dari luar.
“Saya berharap kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk bijak dalam menyikap permasalahan Jl. Pertamina yang berada di Kabupaten Barito Timur. Jangan sampai menggiring opini Masyarakat bahwa Patra Jasa lah yang menjadi mpenyebab kekisruhan selama ini. Pemerintah harus melihat betul siapa yang membuat masalah dan siapa yang dipersalahkan, juga melihat bagimana dan seperti apa pokok pokok permasalahan yang ada ” harap Made.
Lalu, siapa dengan siapa yang bermasalah? Made menjelaskan, yang bermasalah adalah PT SEM/Rimau Group dengan Patra Jasa. “Nah, antara Patra Jasa dengan SEM/Rimau ini murni urusan bisnis. Urusan antara dua badan usaha. Sebagaimana 14 perusahaan lainnya, silahkan PT SEM/Rimau selesaikan secara bisnis dengan kami,” tegas Made.
Dikabarkan saat ini ada sekitar 300-an armada truk yang bekerja pada PT SEM tak bisa lewat. “Lho, ribuan armada lain milik 14 perusahaan itu bisa lewat dengan lancar, dan oke-oke saja kok. Urusan armada PT SEM yang tak bisa lewat, itu silahkan diselesaikan dengan management PT SEM. Itu urusan internal PT SEM. Selesaikan sendiri dong. Kan itu urusan internal perusahaan mereka. Jangan bawa-bawa Patra Jasa atau Pertamina. Manegement PT SEM yang bikin ulah, kok kami yang disalahkan,” tambah Made.

