“Berikutnya penekanan saya pada generasi muda dalam kaitannya dengan KKN kebangsaan yang diikuti dari berbagai mahasiswa diberbagai daerah, kalian harus paham bahwa dimana pun berada harus menghargai dan memahami yang pertama kearifan lokal, kedua memahami berbagai sumber daya yang ada di wilayah karena generasi muda ini akan menjadi seorang pemimpin harus menjadi pemimpin NKRI bukan pemimpin lokal,” katanya.

Lanjutnya, generasi muda harus memiliki pemahaman dengan model berfikir komprehensif integral. Maksudnya model berfikir dengan memandang, menyikapi, dan berusaha menyelesaikan setiap masalah yang timbul dengan memperhatikan hubungan berbagai aspek secara menyeluruh dan menyatu agar setiap masalah dapat terselesaikan. Pemikiran yang ini mendasari kehidupan masyarakat atau negara yang merupakan suatu sistem. Sistem merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan,” ujarnya.

“Jangan, kita sebagai pendatang tetapi mengoreksi atau menyalahkan budaya yang tumbuh berabad-abad. Kita harus paham, bahwa adat istiadat budaya itu terbangun atas nilai luhur sebuah bangsa. Anak muda harus paham ini. Pelaksanaan KKN ini diharapkan justru untuk memperkaya bahwa Indonesia penuh keragaman, jangan mengkorekai budaya yang sudah ada,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor UPR Dr Andrie Elia mengharapkan, mahasiswa KKN Kebangsaan yang telah melaksanakan pengabdian di Kalteng, telah menyerap banyak ilmu pengetahuan, khusunya kebudayaan lokal. Ia berharap, pengalaman tersebut dapat diceritakan kepada generasi muda lainnya setelah kembali ke kampusnya.