Ia yakin dengan menggunakan pendekatan ini, ada keuntungan ekonomi dan keberlanjutan. Hal ini karena penggunaan pertanian cerdas dan teknologi rumah kaca dapat meningkatkan produktivitas tanaman sehingga menghasilkan hasil panen yang lebih tinggi.

Selain itu, petani mempunyai pilihan untuk memanfaatkan rumah kaca untuk memperluas jangkauan produknya. Hal ini termasuk budidaya tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi penting, seperti sayuran dan buah-buahan organik. Tanaman yang tumbuh subur di lingkungan yang dikontrol dengan cermat cenderung memiliki kualitas yang unggul, sehingga membuka peluang untuk memasuki pasar lokal dan internasional. Penerapan teknologi smart farming dan rumah kaca dalam produksi pertanian seringkali dianggap lebih ramah lingkungan sehingga dapat menarik konsumen yang mengedepankan aspek ramah lingkungan. Dengan menggunakan teknologi pertanian cerdas, limbah dan kerugian hasil panen dapat dikurangi melalui pemantauan yang tepat dan mitigasi risiko, jelasnya.

“Kegiatan pelatihan teknis akan dilaksanakan di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Januari hingga Desember 2024.” Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan pelatihan smart farming bahan baku hortikultura rumah kaca, pengkajian keberlanjutan dan pengkajian siklus hidup, serta pemetaan kesesuaian lahan pada lahan seluas 50 hektar,” imbuhnya.