Menurut Arton, persoalan terbesar yang dihadapi petugas saat ini adalah medan yang sulit dijangkau. Sejumlah titik kebakaran berada di kawasan gambut dan wilayah terisolasi yang tidak mudah ditembus melalui jalur darat. Kondisi semakin berat ketika petugas tidak menemukan sumber air yang cukup di sekitar lokasi.
Karena itu, ia menilai penanganan Karhutla membutuhkan dukungan teknologi dan peralatan berskala besar. Pengerahan alat berat hingga operasi pesawat water bombing dinilai penting untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani dari darat.
“Karena keterbatasan fisik tenaga manusia, kita mutlak membutuhkan intervensi teknologi dan armada khusus. Bantuan sarana pendukung berskala besar seperti pengerahan ekskavator hingga masifnya operasi pesawat water bombing sangat krusial untuk menaklukkan kobaran api yang tidak terjangkau jalur darat,” jelasnya.
Arton berharap kunjungan Wapres Gibran tidak hanya menghasilkan laporan kondisi Karhutla, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi penguatan dukungan pemerintah pusat terhadap Kalteng. Ia menegaskan penanganan Karhutla membutuhkan langkah cepat dan dukungan lintas sektor agar dampaknya tidak semakin meluas.
“Hal ini harus mendapat atensi serius dari pusat. Entah dengan pengerahan teknologi mutakhir apa pun, yang jelas bencana Karhutla ini harus betul-betul bisa teratasi oleh kehadiran pemerintah,” pungkasnya. *#TIM#* www.lintasberita1.com

