Sebagai bagian dari pendidikan karakter, Dinas Pendidikan telah menerbitkan surat edaran yang mewajibkan siswa Muslim untuk mengikuti kegiatan mengaji, dan mendorong siswa dari agama lain untuk melakukan literasi kitab suci masing-masing. Program ini diharapkan mampu membentuk karakter yang berlandaskan keimanan.
Tak hanya itu, untuk melestarikan budaya lokal, Pemprov Kalteng juga menetapkan satu hari dalam seminggu sebagai “Hari Berbahasa Dayak”. Sementara itu, penguatan literasi dasar seperti kemampuan berbahasa asing dan numerasi juga terus dikembangkan.
“Kita ingin anak-anak Kalteng memiliki akar budaya yang kuat tapi juga siap bersaing secara global,” ujar Reza.
Dalam upaya meningkatkan fokus belajar siswa di era digital, setiap ruang kelas akan dilengkapi dengan loker atau tas khusus untuk menyimpan ponsel selama jam pelajaran. Digitalisasi pembelajaran terus didorong, namun dengan pengawasan agar siswa tetap konsentrasi saat belajar.
“Digitalisasi sudah diterapkan di hampir seluruh sekolah. Tapi anak-anak tetap harus fokus. Karena itu, HP wajib disimpan selama pelajaran berlangsung,” jelasnya.
Sebagai bentuk pendidikan kolaboratif dan kreatif, Dinas Pendidikan juga terus melanjutkan program gotong royong tahunan mengecat sekolah. Cat dan perlengkapan disediakan oleh pemerintah melalui anggaran perubahan, sedangkan pengecatan dilakukan oleh para siswa sebagai bentuk pembelajaran nilai kerja sama.

