Menurutnya, Kalimantan Tengah juga memiliki karakteristik ekosistem lahan basah yang relatif serupa. Karena itu, pengalaman yang diperoleh dari UMKM Purun Alfirdaus diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk pengembangan dan pembinaan perajin lokal di Kalteng.

“Potensi seperti ini perlu kita pelajari dan kembangkan sesuai dengan kondisi daerah. Kalteng juga memiliki banyak wilayah lahan basah yang dapat menjadi sumber bahan baku kerajinan berbasis kearifan lokal,” ujar Apristini.

Selain memiliki nilai ekonomi, pemanfaatan purun juga dapat menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan produk ramah lingkungan. Pengembangan kerajinan berbahan alam tersebut sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.

Menurut Apristini, pengembangan UMKM berbasis potensi lokal juga dapat memberikan ruang lebih besar bagi perempuan dan ibu rumah tangga untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif.

Melalui kunjungan lapangan tersebut, FISDAWAN DPRD Kalteng mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, perajin, dan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi bahan alam yang tersedia di daerah.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan produk kerajinan yang memiliki daya saing, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru sehingga dapat memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi serta kesejahteraan keluarga di Kalimantan Tengah. *#TIM#* www.lintasberita1.com