Palangka Raya – www.lintasberita1.com – Banjir yang terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak dapat dianggap sebagai fenomena alam yang tidak dapat dihindari, melainkan merupakan tantangan yang memerlukan penanganan yang sistematis dan berkelanjutan.

Musim hujan tahunan hampir pasti mengubah kawasan permukiman menjadi daerah banjir, yang dapat merusak infrastruktur, menghambat kegiatan ekonomi, dan menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat Kalimantan Tengah.

Menanggapi hal tersebut, Wengga Febri Dwi Tananda, anggota DPRD Kalimantan Tengah dari Komisi III, menyatakan bahwa penanganan banjir tidak dapat hanya mengandalkan tindakan tanggap darurat.

Ia menekankan perlunya perubahan cara pandang pemerintah dan masyarakat dalam menangani banjir.

Pembangunan waduk pengendali banjir merupakan salah satu solusi yang disarankan Wengga. Infrastruktur ini tidak hanya membantu dalam pengelolaan aliran air, tetapi juga berpotensi menciptakan cadangan sumber daya air yang dapat digunakan selama musim kemarau.

Wengga menyatakan bahwa penanganan banjir tidak boleh hanya bergantung pada tindakan reaktif setelah terjadi bencana.

“Pendekatan ‘makan cabai’ yang hanya bereaksi saat terjadi bencana harus segera ditinggalkan,” kata Onga, Senin (12/9/2024).

Ia menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, yang meliputi pemeliharaan berkelanjutan, penataan ulang tata guna lahan, dan pencegahan kerusakan lingkungan.

Strategi lain yang disarankannya adalah mengubah daerah yang sering dilanda banjir menjadi daerah tangkapan air dan ruang publik hijau.

Wengga melanjutkan dengan menyatakan bahwa pendekatan ini tidak hanya meminimalkan risiko banjir tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan dan mendorong terciptanya ruang hijau yang bernilai ekologis.

Aspek yang sama pentingnya adalah pemberdayaan masyarakat. Wengga menyoroti pentingnya memberikan pendidikan yang komprehensif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat kemampuan mereka dalam menanggapi bencana.

Wengga menyarankan untuk melaksanakan pelatihan mitigasi bencana, meningkatkan kesadaran tentang risiko kesehatan yang terkait dengan banjir, menumbuhkan pemahaman tentang praktik adaptasi lingkungan, dan membentuk kelompok relawan untuk penanggulangan bencana di tingkat masyarakat.

“Ilmu pengetahuan adalah pertahanan kita yang paling besar. Masyarakat harus memahami tidak hanya bagaimana bertahan hidup, tetapi juga bagaimana mencegah dan mengurangi risiko,” katanya.

Wengga mengakui bahwa transformasi ini penuh tantangan. Transformasi ini memerlukan komitmen politik, alokasi anggaran yang memadai, dan kolaborasi antarlembaga dan pemangku kepentingan.

Ia juga menyebutkan bahwa pendekatan terpadu, bukan sekadar koordinasi, diperlukan untuk mengatasi banjir.

“Namun, perlu ada sinergi nyata antara pemerintah daerah, lembaga penelitian, universitas, dan masyarakat.”

Dengan curah hujan tinggi yang diperkirakan terjadi pada Desember ini, mengambil tindakan proaktif bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan. Kalimantan Tengah memerlukan strategi mitigasi bencana yang cerdas, adaptif, dan berkelanjutan.

Wengga optimistis bahwa dengan pendekatan komprehensif, Kalteng dapat mengubah ancaman banjir menjadi peluang untuk reformasi sistemik dalam pengelolaan lingkungan dan kebencanaan. *#TIM#* www.lintasberita1.com