Palangka Raya – www.lintasberita1.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir orang tua dalam mendidik anak, khususnya untuk menghindari kebiasaan membentak yang dinilai dapat merusak kondisi psikologis dan tumbuh kembang anak.

Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Abdul Hafid, menyampaikan bahwa masih banyak anak yang tumbuh dalam tekanan verbal akibat pola pengasuhan lama yang mengandalkan emosi dan bentakan.

“Kita harus sadari, membentak bukan bentuk mendidik. Justru itu bisa melukai mental anak, membuat mereka tumbuh dengan rasa takut, rendah diri, atau bahkan menjadi pemberontak,” ujar Hafid, Selasa (17/6/2025).

Ia menegaskan bahwa pendekatan pengasuhan anak harus disesuaikan dengan zaman. Menurutnya, orang tua perlu mulai menerapkan pola asuh yang bijak, komunikatif, dan empatik.

“Anak bukan robot yang bisa langsung patuh saat dibentak. Mereka butuh ruang aman untuk bertumbuh, berekspresi, dan belajar dari kesalahan,” tambahnya.

Hafid meminta pemerintah daerah, melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) maupun Dinas Sosial, untuk rutin menggelar edukasi pola asuh positif, baik di desa-desa, sekolah, maupun melalui posyandu dan komunitas masyarakat.

“Banyak orang tua hanya meniru cara lama dari generasi sebelumnya tanpa memahami dampak psikologisnya. Kita perlu edukasi yang masif, dari kota sampai pelosok,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar sekolah menyediakan ruang konseling bagi siswa yang mengalami tekanan di rumah. Menurut Hafid, banyak perilaku negatif siswa di sekolah yang berakar dari pengasuhan keras di lingkungan keluarga.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa keberhasilan anak tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik, melainkan juga oleh kesehatan mental dan kekuatan karakter.

“Bangun kedekatan emosional dengan anak, bukan dengan bentakan. Anak yang merasa didengar dan dipahami akan jauh lebih mudah diarahkan,” ujarnya.

DPRD Kalteng, lanjut Hafid, berkomitmen mendukung regulasi dan anggaran untuk program parenting berbasis psikologi dan budaya lokal. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa masa depan daerah ada di tangan generasi yang sehat, bahagia, dan percaya diri, bukan generasi yang tumbuh dalam ketakutan. *#TIM#* www.lintasberita1.com