Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan bahan pangan impor, sekaligus menjawab berbagai tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis pangan dunia.

“Potensi Indonesia sebagai negara megabiodiversitas menjadi modal utama dalam mendukung transformasi sistem pangan. Sumber daya alam yang melimpah, termasuk umbi-umbian, jagung, sagu, dan aneka kacang-kacangan, memiliki nilai gizi tinggi dan dapat menjadi pilihan konsumsi masyarakat yang lebih sehat dan beragam,” ujarnya.

Norhani juga menekankan bahwa pengemasan produk merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan nilai jual suatu produk. Karena itu, pelaku usaha perlu didukung dengan inovasi, kreativitas, dan keterampilan dalam mengolah serta mengemas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, baik regional, nasional, maupun internasional.

“Kemasan produk saat ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sebagai identitas dan daya tarik utama bagi konsumen. Pemahaman tentang desain kemasan, informasi produk, hingga standar keamanan pangan menjadi sangat penting bagi pelaku usaha Industri Kecil dan Menengah,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Disdagperin menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar mampu menjadi penggerak perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.