“Dalam kurun waktu 2023-2024, menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, bencana alam masih akan terjadi di wilayah krisis kesehatan/bencana, diikuti dengan tingginya angka kejadian KLB/wabah. Berdasarkan data, terdapat 1.295 bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan,” jelasnya.
Setelah itu, bencana nonalam, termasuk penyakit emerging seperti Hepatitis Akut Tak Dikenal, Cacar Monyet, dan Gangguan Ginjal Akut pada Anak (GG APA), menjadi perhatian serius bangsa dan perlu kewaspadaan bersama. Pergerakan manusia yang cepat melintasi batas negara dan globalisasi perdagangan barang dan hewan telah menyebabkan peningkatan dramatis dalam rute perdagangan, yang pada gilirannya meningkatkan keberadaan faktor patogen dan vektor penyakit di seluruh dunia. Faktor-faktor seperti industrialisasi dan perubahan iklim berkontribusi terhadap keparahan risiko ini.
Menanggapi sejumlah besar bencana baik alam maupun buatan manusia yang sering terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah melaksanakan program Peningkatan Kapasitas untuk Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan dan TCK-EMT. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan krisis kesehatan, mengurangi risiko wabah penyakit selama bencana, dan memperkuat sistem ketahanan kesehatan, khususnya dalam menangani keadaan darurat kesehatan dan bencana, jelasnya. *#TIM#* www.lintasberita1.com

