Selain itu, untuk budidaya itik petelur sebanyak 50.522 ekor, dapat memproduksi telur sebanyak 25.408 butir. Telur-telur tersebut, dijadikan olahan telur asin.
Leo mengungkapkan, terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan ekstensifikasi yakni terjadinya perubahan lokus dan fokus kegiatan ekstensifikasi pada pertengahan tahun 2021 (Blok A/Dadahup), sementara telah dilakukan kegiatan ekstensifikasi di luar Blok A seluas 8.075,29 ha yang tidak mendapatkan layanan irigasi yang baik.
“Selain itu juga, kondisi aksesibilitas yang relatif sulit/terbatas menuju lokasi, kondisi curah hujan yang tinggi di lokasi ekstensifikasi yang menyebabkan terhambatnya pelaksanaan konstruksi fisik dan olah tanah, kondisi Infrastruktur irigasi yang ada saat ini belum sepenuhnya baik dan adanya tumpang tindih lahan dengan Hak Guna Usaha perkebunan besar swasta”, imbuh Leo.
Lebih lanjut disampaikan, kondisi curah hujan yang tinggi dan infrastruktur irigasi/drainase yang belum sepenuhnya baik, berpengaruh terhadap waktu lamanya pembuangan air di lahan.
Disampaikan juga bahwa, pengembangan Food Estate di lahan rawa, Prov. Kalteng dilaksanakan secara bertahap (tidak dapat sekaligus dalam satu tahun anggaran), dimulai dari penyiapan infrastruktur lahan dan air, aplikasi teknologi budidaya pertanian, penyiapan dan peningkatan kapasitas SDM petani dan masyarakat serta focus pada penanganan pasca panen (hilirisasi). Pengembangan Food Estate Kalteng di lahan rawa melalui upaya peningkatan Indeks Pertanaman dan luas tanam sangat bergantung pada kondisi infrastruktur dan sistem tata kelola air di tingkat primer, sekunder dan tersier, dan kwarter.
Terkait

