Palangka Raya – www.lintasberita1.com – Ribuan warga Kalimantan Tengah (Kalteng) yang selama ini menggantungkan hidup sebagai pengumpul puya kini menghadapi masa sulit. Pasalnya, sejumlah pabrik yang biasanya membeli hasil olahan limbah penambangan emas tersebut berhenti beroperasi dalam dua bulan terakhir.
Puya sendiri merupakan limbah dari kegiatan penambangan emas yang masih memiliki kandungan mineral berharga. Selama ini, masyarakat yang dikenal sebagai penambang puya mengumpulkannya untuk dijual ke pabrik pengolahan, yang kemudian memprosesnya menjadi produk bernilai ekonomi. Aktivitas ini menjadi sumber penghidupan utama bagi ribuan warga di berbagai daerah di Kalteng.
Namun, sejak beberapa minggu terakhir, pabrik-pabrik pembeli puya justru berhenti beroperasi secara bersamaan. Akibatnya, masyarakat kehilangan tempat menjual hasil kerja mereka.
“Sekarang kami tidak bisa bekerja karena pabrik tidak ada yang membeli. Dampaknya besar sekali, mulai dari biaya sekolah anak-anak, beli beras, sampai kebutuhan harian,” ujar Keli (35), salah seorang penambang puya, Selasa (26/8/2025).
Keli menyebut, sedikitnya ada lima hingga tujuh pabrik yang menghentikan aktivitasnya. Bahkan, sejumlah tenaga kerja pabrik—termasuk pekerja dari luar daerah—sudah dipulangkan.
Hingga kini, penyebab penutupan belum diketahui secara pasti. Diduga, hal itu berkaitan dengan masalah perizinan, kebijakan pemerintah, atau kendala pemasaran hasil olahan.
“Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi masyarakat. Jangan sampai kami terus mengalami kesulitan seperti sekarang. Hidup kami sepenuhnya bergantung pada pekerjaan sebagai penambang puya,” tambah Keli.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat segera memberikan solusi agar aktivitas pengolahan puya kembali berjalan. Pasalnya, ribuan keluarga kini kehilangan sumber pendapatan utama mereka. *#TIM#* www.lintasberita1.com

