Kotawaringin Barat, lintasberita1.com – Postingan ujaran kebencian, fitnah, adu domba oleh akun facebook @Moeslem kini telah dihapus setelah dilaporkan oleh beberapa anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, dengan bukti laporan nomor: Dumas/127/VI/RES.7.4/2020/SPKT tentang UU ITE, Selasa (30/6) sore.

Pemilik akun dengan nama @Moeslem itu menulis dalam beranda pribadinya yang disinyalir masuk pelanggaran Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Sesuai postingannya, yang bersangkutan bisa dikenakan  Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang  diatur dalam Pasal 45A Ayat (2) UU 19/2016 dengan ancaman pidana penjata paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak 1 milyar.

Berikut bunyipostingan akun @Moeslem yang telah disimpan Tim Cyber Ansor Kobar:

BANSER MENGEPUNG KANTOR PDIP
.
© Irkham Fahmi al-Anjatani
.
Ribuan anggota Banser mengepung kantor PDIP di beberapa daerah. Hal itu terjadi karena mereka geram terhadap PDIP yang berusaha mengubah Pancasila menjadi Ekasila dan Trisila. Mereka marah dengan Partai berlambang banteng moncong putih itu. Beberapa anggota PDIP disergap dan digebukin oleh Banser.

Dengan teriak-teriak “NKRI Harga Mati, Saya NKRI Saya Pancasila” pasukan berseragam loreng loreng mirip militer itu tanpa ampun menghajar orang-orang PDIP. Semua sudut kantor PDIP disisir habis guna mencari orang-orang yang bersembunyi di balik meja.

Selain itu pasukan Banser yang gagah berani itu juga membakar bendera dan berbagai aksesoris PDIP. Sebagian dari anggota PDIP lari tunggang langgang menyaksikan amukan pasukan garda terdepan penjaga NKRI tersebut. Mereka terbirit-birit ketakutan hingga tidak peduli lagi dengan motor-motornya yang ditinggal di parkiran.

Sebagaimana diketahui, beberapa anggota DPR RI sudah membeberkan tentang siapa yang menjadi aktor utama di balik RUU HIP. Mereka membenarkan bahwa dalangnya adalah PDIP. Tidak bisa dipungkiri, ternyata di dalam AD ART mereka pun tercantum kalimat bernuansa komunis, sebagaimana yang juga tertuang di dalam RUU HIP. Sebuah kalimat yang coba mereduksi Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila.

Inilah yang membuat umat Islam marah, termasuk Banser. Mereka mensinyalir bahwa RUU HIP yang diperjuangkan PDIP tersebut jelas-jelas berhaluan komunis dan coba mengubah Pancasila yang selama ini sudah menjadi landasan dalam bernegara.

Melihat kenyataan itu Ketum GP Ansor dan Banser berbicara lantang di hadapan ribuan pasukannya: “Saudara-saudara, ketahuilah, ‘Saya NKRI Saya Pancasila’. Sebagaimana yang dulu pernah saya sampaikan bersama Maruarar Sirait, bahwa saya menginstruksikan kepada kalian semua untuk menggebuk siapapun yang hendak mengganti Pancasila, karena ‘Saya NKRI Saya Pancasila’. Dan sekarang ini terbukti dengan jelas bahwa PDIP ingin mengganti Pancasila. Siap kah kalian menggebuk mereka?” teriak Ketum GP Ansor.

Ribuan anggota Banser pun menjawab “Siap. Saya NKRI Saya Pancasila. Dulu kami kejar HTI sekarang kami akan kejar juga PDIP dan antek-anteknya yang hendak mengubah Pancasila”.

Dengan diakhiri menyanyikan lagu ‘Ya Lal Wathon’, kemudian mereka pun bergerak menuju sarang-sarang PDIP untuk menggebuk mereka.

Seperti itulah mimpi saya tadi malam. Benar-benar seperti asli saya melihat betapa gagah beraninya pasukan terdepan penjaga NKRI itu. Andai saja adzan shubuh tidak berkumandang, pasti mimpi itu akan lebih seru dan menegangkan.

Jangan tanyakan kenapa saya mimpi seperti itu, karena itu datang secara tiba-tiba. Mungkin karena saya sering mendengar teriakan mereka yang selalu mengaku sebagai pasukan terdepan penjaga Pancasila. Dan mimpi ku ini ternyata yang menjadi momen pembuktiannya. [].
Indramayu, 28 Juni 2020
(Tulis akun @Moeslem pada hari minggu tanggal 28 Juni 2020 pukul 13.03 WIB).

Menanggapi informasi dari Tim Cyber Ansor itu, Juru bicara Ansor Kobar, Suhud Mas’ud menjelaskan jika penghapusan postingan itu tidak akan mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan saat ini. Ia mengatakan barang bukti (BB) berupa screenshoot yang telah dicetak serta sebagai alat bukti pelaporan dan menjadi dasar Pihak Kepolisian dalam mengambil tindakan sudah tidak lagi bisa dipungkiri.

“Meski dia (@Moeslem) sudah menghapusnya itu tidak ngaruh. Sudah terlambat,” jelasnya kepada lintasberita1.com, Rabu (1/7) siang.

Suhud menganalogikan, ada seseorang menulis dan dipublikasikan dengan Judul si A (nama jelas seseorang) memperkosa istri si B (nama jelas seseorang). Lalu dia tulis kronologi pemerkosaan itu secara detail, namun pada paragraf terakhir ia menjelaskan bahwa apa yang ia tulis itu adalah sebuah mimpi dari tidurnya. Kendati demikian, lanjut dia, yang bersangkutan tetap melanggar hukum.

“Itu bukan mimpi, tapi lebih kepada fitnah. Bisa babak belur yang menulis demikian,” kelakarnya. (Wendy C -LB1)