Pohon Sawit Milik PT Astra Tumbuh Subur di Sungai Jampao

Kotawaringin Barat, lintasberita1.com – Berdasarkan temuan di lapangan, Rabu (22/1) Sungai Jampao sepanjang 5 (lima) kilo meter dari RT 06 Kelurahan Pangkut Kecamatan Arut Utara hingga jalan Korintiga Hutani (Aspek) sebagian ditanami pohon kelapa sawit. Pohon-pohon tersebut tampak subur dengan usia berkisar 13 – 17 tahun.

Sungai Jampao yang dikenal banyak hewan primatanya (Buaya) ini terlihat semakin sempit karena diapit oleh tanaman sawit yang merupakan milik PT Astra Agro Lestari,tbk tepatnya di dalam area PT SINP-PBNA. Meski tanaman itu (Sawit) jika banjir berada di tengah-tengah Sungai, namun pertumbuhannya terlihat normal seperti layaknya tanaman yang berada di daratan. Bahkan sepanjang bantaran sungai itu tampak ribuan pohon sawit menjulang tinggi menutupi keindahan alam Arut Utara itu.

Pada ujung jempatan Jampao dan jembatan di AFD Delta PBNA, ada sebuah papan nama yang menegaskan larangan menggunakan bahan kimia di wilayah sungai tersebut. Dalam papan peringatan itu tertulis sebuah aturan bahwa sungai dengan luas 30 meter, maka sempadan sungai harus 100 meter, jika lebar sungai 20 – 30 meter maka sempadan sungai harus 50 meter. Hal ini selaras dengan bunyi pasal-pasal yang terkandung dalam PP Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai dan Permen PUPR Nomor 28/PRT/M/2015 tentang penetapan garis sempadan sungai dan garis sempadan Danau.

Larangan yang jelas terpampang itu menegaskan kepada siapapun yang menanam pohon sawit tidak boleh melebihi batas yang sudah ditentukan. Karena, ketika sempadan sungai itu ditanami, maka sudah barang tentu tidak lepas dari bahan kimia, yakni pupuk dan obat-obatan serta bahan kimia lainnya.

Menelusuri temuan ini, Tim lintasberita1.com melakukan konfirmasih dan klarifikasi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Jumat sore (24/1), namun sayang Kadis tidak ada di tempat. “Kadis sedang ada kegiatan di luar kantor. Kalau tanam itu (garis sempadan) kan sudah lama, jadi ya kami tidak bisa komentar,” ucap salah satu pegawai DLH yang tidak menyebutkan namanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Hotikultura, Kamaludin saat dikonfirmasi, Sabtu pagi dan sore (25/1) tanggapannya tentang temuan ini malalui pesan singkat (WA) meski sudah dibaca namun belum dibalasnya hingga berita ini dimuat.

Diketahui, Sungai Jampao merupakan daerah aliran sungai (DAS) yang airnya digunakan oleh sebagian masyarakat. Sungai ini juga menjadi salah satu icon untuk warga Kelurahan Pangkut. Karena jika mendengar kalimat Sungai Jampao maka asumsi penduduk pada tempat bersarangnya Buaya.

Sungai ini (Jampao) juga merupakan sumber air untuk kehudupan warga, untuk tanaman para peladang baik warga lokal maupun pendatang. Sekalipun musim kemarau sungai ini tak pernah kekeringan.

Menurut keterangan seorang Tokoh Masyarakat, SUL ( yang disamarkan Namanya ), sungai itu sudah ada sejak dahulu jaman nenek moyang mereka yang merupakan Suku Dayak Pangkut. Di Sungai inilah mereka menggantungkan hidupnya dari berburu ikan dan lainnya untuk kebutuhan makan setiap harinya.

“Damar (getah) kayu, batang pakit, getah merah, ikan, rotan, untuk minum dan mandi. Dahulu airnya jernih tapi sekarang keruh,” tukas SUL ditemui di wilayah RT 06 Pangkut, Sabtu siang (25/1).

Selain itu, SUL juga menjelaskan tentang penebangan dan pembukaan lahan sumber daya alam (SDA) yang berada disepanjang bibir sungai Jampao diawali pada tahun 1997 hingga tahun 1999.

“Waktu itu PT Astra bilang kalau 200 meter dari sungai tidak ditanami. Karena itu untuk lahan tanaman warga. Tapi sekarang seperti itu,” imbuhnya.
www.lintasberita1.com , #SUHUD#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *