Pertahankan Zona Hijau, Camat Arutara dan Kades Kerja Lembur

KOBAR, lintasberita1.com – Bertambahnya pasien yang terjangkit Covid-19 di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah membuat Camat Arut Utara (Arutara) M.Nursyah Ikhsah Kepada Desa se Arutara harus kerja ekstra. Hal ini ditengarai temuan baru yakni salah satu pasien asal desa yang berdekatan dengan Desa Nangamua.

Meski hari libur, Sabtu (18/4) malam, usai mengikuti giat Bupati Kobar membagikan sembako di Arutara, Camat beserta dokter Puskesmas langsung geser ke Desa Nangamua guna mempersiapkan penutupan akses jalan dengan desa yang warganya positif terkena virus corona tersebut.

“Kita harus segera berkoordinasi dengan pihak desa agar Arut Utara tetap pada zona hijau. Kita pertahankan soal ini,” tandasnya saat ditemuai di ruang kerjanya pada waktu yang sama.

Rapat terbatas yang dipimpin oleh Camat dengan beranggotaan dokter Puskesmas Arutara, Kades Nangamua beserta jajarannya dan Bidan desa itu menghasilkan kesepakatan pemasangan portal permanen jalan akses menuju dan dari Desa Umpang Arut Selatan dalam waktu 14 hari pertama.

Selain itu, di setiap pintu masuk juga ada beberapa portal yang dijaga oleh aparat desa dan masyarakat. Bahkan sebelum adanya rapat koordinasi, pihak desa dan masyarakat sudah tanggap darurat dan memasang portal-portal tersebut, mengingat desa Nangamua berdekatan dengan desa Umpang meski dari kecamatan yang berbeda.

Sebelumnya, histori perjalanan satu pasien yang dari Desa Umpang inilah yang mendorong Camat beserta jajarannya harus kerja keras. Menurut penjelasan paramedis di Polibun PT Korin Tiga Hutani, pasien yang dinyatakan positif Covid-19 ini beberapa waktu lalu mengantar orang tuanya berobat. Dalam mobil yang ia pakai semuanya ada 4 orang termasuk OTG dan orang tuanya yang sakit tersebut.

Dokter yang manangani saat itu meminta agar si pasien (orang tuanya yang sakit), menyarankan agar dirujuk ke RSUD Pangkalan Bun. Namun anak si pasien justru tidak menerima anjuran itu dan sempat adu mulut dengan petugas medis. Melihat baju yang dikenakan OTG ini menggunakan pakaian ala jamah klaster Goa. Maka dokter pun curiga, hingga setelah mereka pulang Polibun itu akhirnya disemprot disifektar bahkan bantal dan sprai dibuang guna antisipasi penyebaran virus tersebut.

Kabar ini sebelumnya tak muncul, mengingat belum ada kepastian apakah yang bersangkutan itu terhangkit Covid-19 atau kah tidak. Namun seiring berjalannya waktu kekhawatiran oleh tim medis Polibun ternyata menjadi kenyataan. Laki-laki yang mengantar pasien itu dinyatakan positif terjangkit virus corona dengan status orang tanpa gejala (OTG).

Medis menjelaskan, OTG sangatlah lebih berbahaya dibandingkan dengan pasien dalam pengawasan (PDP). Pasalnya, orang yang terjangkit virus ini tidak menyadari karena tidak merasakan sedikitpun ada gejala sakit pada dirinya. Sehingga tanpa sadar mereka juga tidak membatasi dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain. Www.lintasberita1.com, #Suhud Mas’ud#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *