Majlis Hindu Kaharingan: Jangan Gunakan Nama Adat untuk Kepentingan Pribadi

Kotawaringin Barat, lintasberita1.com – Ketua Majlis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kota Palanga Raya yang sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Tandak Intan,  Prada L KDR, M.Ag, M.Si menekankan agar masyarakat Suku Dayak tidak salah langkah dalam menjalankan ritual adat. Apalagi hal itu dipergunakan untuk menutup jalan, blokir area perusahaan dan lainnya guna kepentingan individu atau kelompoknya.

Prada menjelaskan, Hinting Pali atau Mahinting adalah satu upaya yang dianggap bisa menjadi sarana efektiv dalam menuntaskan persoalan sengketa adat. Namun kadang-kadang hal ini juga digunakan secara brutal oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dengan dalih untuk mempertahankan hukum adat dayak namun justru digunakan kepentingan individu atau kelompok-kelompoknya.

“Hinting Pali seolah-olah menjadi jalan keluar yang tepat untuk menyelesaikan masalah tanpa mau memikirkan akibat langsung maupun berakibat tak langsung atas pemasangan Hinting Pali tersebut,”ucap Prada dalam video rilisnya, Kamis (15/10/2020).

Paradigma ini, sambung Prada, harus dihentikan karena hal itu melecehkan adat dayak itu sendiri. Dewan Kepala Adat, Damang adat, Mantir-mantir adat sebagai ujung tombang penegakan hukum adat harus dapat membedakan antara adat dan ritual adat yang merupakan ajaran yang dianut oleh masyarakat adat Dayak dalam hal ini yang beragama Hindu Kaharingan.

Hal ini adalah satu akibat karena ketidak mengertinya terhadap adat dan budaya dayak karena sering ditinggalkannya atas kearifan lokal itu sendiri. Hinting Pali, lanjut Prada, Mahinting atau Tarinting adalah upacara agama Hindu Kaharingan yang sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak.

Pemasangan Hinting Pali di antaranya apabila ada kematian di tempat tersebut akibat Dondang atau Jebakan Babi. Jadi ritual ini jelas ada sebab akibat yang memang harus dilaksanalan ritual karena memang masuk pada hukum adat Suku Dayak Agama Kaharingan.

Dalam rilisnya Prada juga menyinggung tentang ritual adat ini kerap kali digunakan oleh oknum atau kelompok tertentu untuk keuntungan pribadinya.

Video pemaparan yang berdurasi lima menit, 45 detik itu menyimpulkan bahwa ritual adat Suku Dayak Agama Hindu Kaharingan adalah murni untuk kegiatan yang bersifat adat dan budaya serta aturan yang masuk di dalamnya.

“Jadi tidak ada hubungannya ritual pemasangan Hinting Pali atau Mahinting atau Tarinting itu untuk menutup jalan, memblokir area perusahaan untuk meminta ganti rugi atau memasang hinting untuk menyelesaikan sengketa lahan. Tidak ada sama sekali,” tegas Prada.

Dikatakannya, jika hal itu dilakukan maka jelas merupakan penistaan terhadap Agama Hindu Kaharingan. (WS – LB1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *