JAKARTA, lintasberita1.com – Perempuan lanjut usia (Lansia) di Indonesia berpotensi mengalami kekerasan dan diskriminasi ganda, baik karena statusnya sebagai perempuan maupun karena statusnya sebagai penduduk yang usianya sudah lanjut. Selain karena secara fisik mereka sudah banyak mengalami kemunduran, kenyataan juga menunjukkan masih rendahnya pemahaman dari masyarakat tentang lansia.

Padahal, masih banyak lansia sehat yang produktif dan dapat diberdayakan bagi masyarakat. Oleh karenanya, diperlukan kepedulian serta kebijakan pemerintah dan masyarakat terutama peranan keluarga untuk melindung lansia dari berbagai diskriminasi dan eksploitasi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Yohana Yembise pada kegiatan “Pertemuan Akbar 1000 Lansia “Gerakan Sayangi Lansia: Semua Lansia Adalah Orang Tua Kita” di Teater Garuda Taman Mini, Jakarta, Sabtu (/12/2018) mengatakan, perempuan lansia selalu dikonotasikan sebagai kelompok rentan yang selalu bergantung pada orang lain dan menjadi beban tanggungan keluarga, masyarakat dan negara. Padahal, masih banyak perempuan lansia yang tetap sehat, produktif dan mandiri di usia tuanya. Mereka adalah kelompok masyarakat yang harus terus diberdayakan, karena mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kelompok penduduk lainnya dalam pembangunan. Perlu penanganan khusus pada lansia perempuan karena karakteristik mereka cenderung berbeda dengan lansia laki-laki.

“Masih ada beberapa diskriminasi terhadap lansia perempuan baik dari aspek budaya, politik, kesehatan, ekonomi dan sosialnya, yang kesemuanya ini dapat berpotensi terjadinya kekerasan,” jelas Menteri Yohana.

Dalam kegiatan “Gerakan Sayangi Lansia” juga dilakukan Talkshow terkait perlindungan lansia dengan narasumber Maliki dari Bappenas dan Sukamdi dari Universitas Gadjah Mada.

Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Vennetia R. Danes mengungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar berperan aktif melindungi perempuan lansia khususnya dan lansia pada umumnya.

“Selain meningkatkan perlindungan perempuan lansia, juga diharapkan masyarakat dapat melakukan pemberdayaan lansia di semua bidang sesuai potensi dan kemampuannya,” tambahnya.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah lansia di Indonesia sebanyak 21.609.717 juta jiwa. Jumlah lansia perempuan lebih banyak daripada lansia laki-laki. Berdasarkan data hasil Survey Pengalaman Hidup Nasional Perempuan (SPHNP) 2016 bahwa perempuan usia 50-64 tahun masih mengalami berbagai kekerasan, seperti kekerasan ekonomi 17,25%, kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasangan 11,18%, kekerasan yang dilakukan selain pasangan 4,92%, kekerasan seksual 24,43%.

Ketua Organisasi Lansia “Dahlia Senja”, Ratna Hapsari mengungkpakan bahwa lansia masih mengalami berbagai kekerasan dalam kehidupan sehari – harinya.

Ratna bercerita ketika organisasinya melakukan kunjungan ke rumah-rumah lansia, ia menemukan bahwa lansia masih mengalami kekerasan, baik secara verbal, tindakan, dan pembebanan pekerjaan rumah tangga berlebihan oleh keluarganya. Kepedulian anggota keluarga terhadap lansia masih sangat sedikit. Hal ini terbukti dengan masih adanya perkataan kasar dan kurangnya kesabaran anggota keluarga dalam merawat lansia.

Lansia seolah-olah menjadi beban yang merepotkan bagi keluarga. Oleh karenanya, organisasinya melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman agar para keluarga lebih peduli terhadap kondisi dan kebutuhan lansia.

“Kepedulian serta kebijakan Pemerintah dan masyarakat terutama peranan keluarga dalam melindungi lansia sangat dibutuhkan,” tegas Menteri Yohana.

Lanjutnya, Kebutuhan tersebut antara lain jaminan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, dan jaminan perlindungan hukum. Kebijakan program pembangunan yang dilakukan seharusnya lebih khusus dan terfokus, salah satunya untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lansia perempuan.

“Saya sangat mengapresiasi Bupati Kepahiang, Bapak Hidayatullah Syahid yang sudah membentuk Lansia Maju Mandiri Sejahtera. Sayangi lansia, semua lansia adalah orang tua kita. Mari bersama hapuskan kekerasan terhadap lansia,” tutup Menteri Yohana. Www.lintasberita1.com, #PERDI#